Metode S.T.O.P Menulis Artikel Blog untuk Pemula

March 26, 2017 Add Comment

Metode S.T.O.P Menulis Artikel Blog untuk Pemula

Menulis adalah kegiatan kreatif. Menulis adalah cara terampil untuk mengekspresikan gagasan, pendapat, ide, opini, pikiran, dan perasaan dengan media bahasa. Bahasa yang disampaikan dibuat secara teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dipahami oleh pembaca.  

Kegiatan menulis bukan hal yang mudah. Memang.
Diantaranya saat kita dihadapkan dengan bagaimana memulai. Berbagai metode, cara,  teori kita siapkan. Tetapi masih saja sulit untuk mengawalinya.

Keterampilan menulis harus dilakukan dengan pembiasaan.  Hal inilah yang dibutuhkan dalam menulis. Apapun alasannya hal yang tidak biasa sulit menjadi bisa. Bukan hanya mengandalkan bakat atau pendidikan, tetapi memang harus direalisasikan lewat kerja nyata.

Saat pertama kita memiliki keinginan untuk menulis, hal yang biasa menjadi halangan adalah begitu sulitnya memulai. Apa yang menjadi kendala? pertanyaan yang juga hadir adalah mana teorinya?
Akan tetapi daripada kita terus berpikir dan berpikir tentang cara dan teori, alangkah baiknya kita lakukan saja sebuah pola mendasar yang akan saya uraikan dalam artikel ini.

Berdasarkan tujuannya, ada beberapa macam kategori dan jenis menulis.  Salah satunya adalah menulis artikel.Jika dikelompokan ada beberapa langkah  umum dalam kegiatan menulis. Termasuk dalam menulis artikel untuk blog.

Berdasarkan pengalaman, saya mencoba merangkum dan menerapkan empat  hal sebagai berikut.
Cara sederhana ini terdiri dari empat langkah dasar pekerjaan menulis. Tahapan dalam metode tersebut adalah Simpan/ Save, Tulis/ Take to Writing, Olah/ Organisasikan/ Organizing, dan Publis/ Publish or Posting (STOP). STOP di sini bukan berarti stop atau berhenti menulis. maknai saja, STOP di sini adalah stop!, berhenti untuk terus berpikir dan berpikir tentang teori. Tulis.

Metode STOP untuk Artikel Blog

Baiklah kita kaji apa yang dimaksud dengan metode STOP. Berikut saya uraikan  langkah-langkahnya:

Langkah 1: Simpan/ Save (S)

Simpanlah informasi apapun yang anda dapat. Informasi ini bisa berasal dari berbagai macam sumber:
1. Bahan bacaan yang berupa, buku, koran, internet.
2. Obrolan dengan teman, tetangga, teman kerja, keluarga
3. Pengalaman pribadi kita; pengalaman terkini, pengalaman masa lalu
4. Pengalaman orang lain
5. Workshop, seminar, pelatihan

Dengan menyimpannya kita sudah membangun bank data yang berisi bahan-bahan untuk tulisan kita.
Sama benarnya seperti yang diungkapkan seorang pakar menulis,

“From the moment I decided to get serious about this writing gig—around the time
I got my fourth rejection slip—I immediately started researching the business, the craft,
and the industry, buying every writing-advice book I could get my hands on, listening to
grizzled veterans at conferences, and browsing the Internet for articles when I wasn’t
writing.”
Write Good or Die, Scott Nicholson - 2010

Jadi jika anda serius untuk menulis. Mulailah untuk segera mengkaji, meneliti, melakukan obervasi, mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, buku, internet, workshop, seminar,dan segala hal yang membuat wawasan kita bertambah., dan kita harus  menyimpannya. Begitu kira-kira makna dari sisipan ungkapan di atas.

Langkah 2: Tulis/ Take to Writing (T)
Tulis saja. Lebih rincinya, jika kita mampu hanya dengan menulis satu huruf saja. Tulis satu huruf di lembaran media tulis kita. Jika kita mampu menulis hanya satu kata. Tulis satu kata. satu kata, satu kalimat, satu frase, satu paragraph. Selanjutnya kita akan melihat (sebuah tulisan yang acak) berisi gagasan yang tidak menentu. Tak apalah . Hal terpenting adalah kita sudah melihat sebuah bentuk nyata meskipun belum sepenuhnya rapi. Lihat ngawur kan tulisan awal kita? dan tahap berikutnya yang akan menentukan bagaimana dan kemana arah tulisan kita menjadi sebuah karya.

TULIS

Langkah 3: Olah/ Organisasikan/ Organizing (O)
Di tahap inilah  kita mulai bekerja lagi. Mengolah catatan atau artikel yang acak secara tata bahasa tadi untuk kita jadikan  sebuah karya manunggal. Dalam tahap Olah/ Organisasikan/ Organizing pekerjaan kita adalah menyunting kata demi kata, kalimat, paragraf, hingga keseluruhan bentuk nyata artikel kita. Jangan lupa juga memperhatikan kesalahan ejaan adalah pekerjaan dasar dari tahap Olah. Mengolah, mengedit, mengorganisir tata bahasa dan ejaan jangan pernah dibaikan.

Langkah 4: Publis/ Publish or Posting
Ini adalah tahap saat anda merasakan hal unik. Jangan menganggap ini hal kecil. Terkadang hanya beberapa detik saja kita melirik tombol publis dan akan menekannya, secepat itu pula bisa jadi kita kembali menahan diri untuk tidak melakukan. Deg-degan, takut tidak ada yang membaca, takut dikritik, membayangkan artikel anda tidak layak, atau hal lain yang muncul di pikiran dan perasaan kita. STOP. Jika memang artikel kita sudah sepenuhnya rampung, tidak ada kata lain yang lebih baik kecuali kata Publikasikan, Posting.

Lihat, blog anda sudah berisi artikel anda kan? Mudah dan sederhana.  Silahkan anda bagikan di media sosial, ajak teman untuk membaca, ajak rekan untuk berdiskusi tentang isi dari artikel anda.
Cukup mudah kan?

Distorsi Makna dalam Kata "Gratis" dan “Free”

March 25, 2017 Add Comment

Di abad milenium istilah ini seolah menjadi ikon penting bahkan menjadi ‘selebritis’ kata, dimanapun kita berada, di dunia nyata ataupun  di belahan dunia maya. 
Pembaca yang baik hati, pasti tidak asing dengan kata ini. “Gratis” dan “Free”. 
Sebenarnya apa makna dari istilah tersebut?

Distorsi sendiri mengandung arti pemutarbalikan suatu fakta, aturan, dan sebagainya; penyimpangan untuk memperoleh keuntungan pribadi, tidak jarang orang melakukannya terhadap fakta yang ada.
                                          
Cukup sebut atau tulis satu kata. “Gratis”. Maka, pasar, sekolah, blog, website, tempat kursus, warung kopi, kantor, lapangan parkir dan berbagai macam yang ditempeli embel-embel “Gratis” dalam hitungan jam, menit, bahkan detik segera penuh sesak dengan orang-orang yang memiliki ikatan kepentingan dengan kata tersebut.

Pada kesempatan ini saya juga ingin berbagi kata dengan cara yang gratis.
Berbagi kata dengan makna yang gratis.

Dalam ilmu kebahasaaan. Di dalam salah satu kamus, kata  “Gratis” dibagi menjadi dua suku kata pengucapan; gratis/gra.tis/. Arti kata tersebut adalah
cuma-cuma (tidak dipungut bayaran).

Kita coba gabungkan dengan unsur lain seperti ini; menggratiskan/meng.gra.tis.kan atau digratiskan/di.gra.tis.kan. Kalimat ini penggunaannya bisa bermakna menjadikan gratis, contohnya, "meskipun kami sudah 'menggratiskan' sebagian tiket, tapi kami masih tetap rugi.”

Dalam bahasa Inggris padanan kata tersebut adalah:
-free (gratis, bebas, lepas, kosong, luang, terluang)
-complimentary (gratis, yang berisi pujian, bersifat memuji)
-free of charge (gratis, bebas biaya)
-costless (gratis)
-gratuitous (serampangan, perdeo, percuma, cuma-cuma, gratis, tidak beralasan)
-scotfree (tanpa hukuman, yang tidak dibea, gratis)
-complimental (yang berisi pujian, bersifat memuji, gratis)
-no charge (gratis)
Anda buat sendiri kalimat yang sesuai dengan kata-kata di atas.

Setelah kita bongkar makna dari kata tersebut maka kita lakukan simulasi.
Coba ketik di Mbah Google seperti contoh screenshoot di bawah ini;

hasil pencarian kata "Gratis" di Google

Dua milyar setengah lebih pencarian. Fantastis kan? Pertanyaannya apa yang mereka cari dengan kata ‘“Gratis”? Kuliah gratis? Sekolah gratis? Makanan gratis? Tempat rekreasi gratis? Hotel gratis? Nonton gratis? Buku gratis? Pulsa gratis? Mati gratis?? Hee…

Perhatikan juga hasil pencarian dalam bahasa Inggris “Free”.

hasil pencarian kata "Free" di Google

Apa yang dicari? Free download? Free movie? Free hotspot? Free picture? Free hosting? Free software? Free vector? dan masih banyak lagi “Free” yang dicari dalam hitungan detik itu.
Tapi apapun yang dicari sudah tentu ada tujuannya.

Jika anda adalah orang tua dari seorang anak yang tengah bersekolah di SMA, misalnya, apa yang anda rasakan jika dalam sebuah rapat kepala sekolah mengumumkan bahwa tahun ini sekolah gratis! Bebas biaya bulanan, dan bebas biaya-biaya lainnya.

Jika anda seorang pemilik toko dengan pengunjung yang bisa dihitung jari setiap harinya. Lalu anda “menggratiskan” salah-satu barang yang banyak dibutuhkan konsumen. Lihatlah hasilnya. Meski anda harus mendapat resiko lain dari cara seperti ini. Stok habis atau justru barang lain yang tidak pernah dilirik orang menjadi  laris.

Sebenarnya istilah “Gratis “ ini sudah lama menjadi bagian dari ungkapan harian. Silahkan anda perhatikan kata-kata bijak yang berisi kata “Gratis” di bawah ini.

“Bagi pria muda, istri adalah kekasih untuk bercinta. Bagi pria dewasa, istri adalah teman untuk diskusi. Bagi pria tua, istri adalah perawat yang gratis.”
 - Francis Bacon

“Kejujuran itu gratis, sementara ketidakjujuran selalu berbayar.”
- Michael Josephson

“Tak ada tikus yang tidak berkumis. Tak ada keuntungan yang datang gratis, semuanya harus dibayar.”
- Putu Wijaya

Inti dari catatan ini adalah sebuah kata akan mampu merubah situasi walaupun berbalik dengan maknanya, sangat cepat meskipun harus dibayar dengan nilai yang tinggi dengan segala perangkat persiapannya.

Saya jadi berpikir, tidak ada kata yang lebih mahal penerapannya daripada kata “Gratis”.

O Me! O life!...Poems by Walt Whitman

March 22, 2017 Add Comment



O Me! O life!... of the questions of these recurring;
Of the endless trains of the faithless—of cities fill’d with the foolish;
Of myself forever reproaching myself, (for who more foolish than I, and who more
faithless?)
Of eyes that vainly crave the light—of the objects mean—of the struggle ever
renew’d;
Of the poor results of all—of the plodding and sordid crowds I see around me;
Of the empty and useless years of the rest—with the rest me intertwined;
The question, O me! so sad, recurring—What good amid these, O me, O life?


Answer.
That you are here—that life exists, and identity;
That the powerful play goes on, and you will contribute a verse.

Sejarah Kerajaan Karesian Kendan di Nagreg, Bandung, Jawa Barat

March 22, 2017 Add Comment
Papan Situs Kendan Nagreg

Situs Kendan di Kecamatan Nagreg hingga kini masih menyimpan daya tarik untuk dikaji. Sebagai bahan penelitian maupun rekreasi budaya. Berikut pokok bahasan mengenai asal-usul Kerajaan Kendan, Silsilah Kerajaan Kendan, dan Nuras di Nagreg.

Resiguru Manikmaya, Raja Pertama Kendan
Sang Resiguru Manikmaya datang dari Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga Calankayana, India Selatan. Sebelumnya, ia telah mengembara, mengunjungi beberapa negara, seperti: Gaudi (Benggala), Mahasin (Singapura), Sumatra, Nusa Sapi (Ghohnusa) atau Pulau Bali, Syangka, Yawana, Cina, dan lain-lain. Resiguru Manikmaya menikah dengan Tirtakancana, putri Maharaja Suryawarman, penguasa ke-7 Tarumanagara (535-561 M). Oleh karena itu, ia dihadiahi daerah Kendan (suatu wilayah perbukitan Nagreg di Kabupaten Bandung), lengkap dengan rakyat dan tentaranya.

Resiguru Manikmaya, dinobatkan menjadi seorang Rajaresi di daerah Kendan. Sang Maharaja Suryawarman, menganugerahkan perlengkapan kerajaan berupa mahkota Raja dan mahkota Permaisuri. Semua raja daerah Tarumanagara, oleh Sang Maharaja Suryawarman, diberi tahu dengan surat. Isinya, keberadaan Rajaresi Manikmaya di Kendan, harus diterima dengan baik. Sebab, ia menantu Sang Maharaja, dan mesti dijadikan sahabat. Terlebih, Sang Resiguru Kendan itu, seorang Brahmana ulung, yang telah banyak berjasa terhadap agama. Siapa pun yang berani menolak Rajaresiguru Kendan, akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya akan dihapuskan.

Penerus Tahta Kerajaan Kendan

Dari perkawinannya dengan Tirtakancana, Sang Resiguru Manikmaya Raja Kendan, memperoleh keturunan beberapa orang putra dan putri. Salah seorang di antaranya bernama Rajaputera Suraliman. Dalam usia 20 tahun, Sang Suraliman dikenal tampan dan mahir ilmu perang. Sehingga, ia diangkat menjadi Senapati Kendan, kemudian diangkat pula menjadi Panglima Balatentara (Baladika) Tarumanagara.

Resiguru Manikmaya memerintah di Kerajaan Kendan selama 32 tahun (536-568 Masehi). Setelah resiguru wafat, Sang Baladika Suraliman menjadi raja menggantikan ayahnya di Kendan. Penobatan Rajaputra Suraliman, berlangsung pada tanggal 12 bagian gelap bulan Asuji tahun 490 Saka (tanggal 5 Oktober 568 M.). Sang Suraliman terkenal selalu unggul dalam perang. Dalam perkawinannya dengan putri Bakulapura (Kutai, Kalimantan), yaitu keturunan Kudungga yang bernama Dewi Mutyasari, Sang Suraliman mempunyai seorang putra dan seorang putri. Anak sulungnya yang laki-laki diberi nama Sang Kandiawan. Adiknya diberi nama Sang Kandiawati.

Sang Kandiawan, disebut juga Rajaresi Dewaraja atau Sang Layuwatang. Sedangkan Sang Kandiawati, bersuamikan seorang saudagar dari Pulau Sumatra, tinggal bersama suaminya. Sang Suraliman, menjadi raja Kendan selama 29 tahun (tahun 568-597 M). Kemudian ia digantikan oleh Sang Kandiawan yang ketika itu telah menjadi raja daerah di Medang Jati atau Medang Gana. Oleh karena itu, Sang Kandiawan diberi gelar Rahiyangta ri Medang Jati.

Setelah Sang Kandiawan menggantikan ayahnya menjadi penguasa Kendan, ia tidak berkedudukan di Kendan, melainkan di Medang Jati (Kemungkinan di Cangkuang, Garut). Penyebabnya adalah karena Sang Kandiawan pemeluk agama Hindu Wisnu. Sedangkan wilayah Kendan, pemeluk agama Hindu Siwa. Boleh jadi, temuan fondasi candi di Bojong Menje oleh Balai Arkeologi Bandung, terkait dengan keagamaan masa silam Kendan.

Sebagai penguasa Kendan ketiga, Sang Kandiawan bergelar Rajaresi Dewaraja. Ia punya lima putra, masing-masing bernama Mangukuhan, Karungkalah, Katungmaralah, Sandanggreba, dan Wretikandayun. Kelima putranya, masing-masing menjadi raja daerah di Kulikuli, Surawulan, Peles Awi, Rawung Langit, dan Menir. Kemungkinan, lokasi kerajaan bawahan Kendan tersebut berada di sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Pendahulu Kerajaan Galuh

Sang Kandiawan menjadi raja hanya 15 tahun (597-612 M). Tahun 612 Masehi, ia mengundurkan diri dari tahta kerajaan, lalu menjadi pertapa di Layuwatang Kuningan. Sebagai penggantinya, ia menunjuk putra bungsunya, Sang Wretikandayun, yang waktu itu sudah menjadi rajaresi di daerah Menir.

Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Kendan pada tanggal 23 Maret 612 Masehi, dalam usia 21 tahun. Malam itu, bulan sedang purnama. Esok harinya, matahari terbit, tepat di titik timur garis ekuator. Sang Wretikandayun tidak berkedudukan di Kendan ataupun di Medang Jati, tidak juga di Menir. Ia mendirikan pusat pemerintahan baru, kemudian diberi nama Galuh (permata). Lahan pusat pemerintahan yang dipilihnya diapit oleh dua batang sungai yang bertemu, yaitu Citanduy dan Cimuntur. Lokasinya yang sekarang, di desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Sebagai Rajaresi, Sang Wretikandayun memilih istri, seorang putri pendeta bernama Manawati, putri Resi Makandria. Manawati dinobatkan sebagai permaisuri dengan nama Candraresmi. Dari perkawinan ini, Sang Wretikandayun memperoleh tiga orang putra, yaitu Sempakwaja (lahir tahun 620 M), Jantaka, (lahir tahun 622 M), dan Amara (lahir tahun 624 M).Ketika Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai Raja Kendan di Galuh, penguasa di Tarumanagara saat itu, adalah Sri Maharaja Kretawarman (561-628 M).

Sebagai Raja di Galuh, status Sang Wretikendayun adalah sebagai raja bawahan Tarumanagara. Berturut-turut, Sang Wretikandayun menjadi raja daerah, di bawah kekuasaan Sudawarman (628-639 M), Dewamurti (639-640 M), Nagajayawarman (640-666 M), dan Linggawarman (666-669 M).

Ketika Linggawarman digantikan oleh Sang Tarusbawa, umur Sang Wretikandayun sudah mencapai 78 tahun. Ia mengetahui persis tentang Tarumanagara yang sudah pudar pamornya. Apalagi Sang Tarusbawa yang lahir di Sunda Sembawa dan mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Ini merupakan peluang bagi Sang Wretikandayun untuk membebaskan diri (mahardika) dari kekuasaan Sang Tarusbawa.

Sang Wretikendayun segera mengirimkan duta ke Pakuan (Bogor) sebagai ibu kota Kerajaan Sunda (lanjutan Tarumanagara) yang baru, menyampaikan surat kepada Sang Maharaja Tarusbawa. Isi surat tersebut menyatakan bahwa Galuh memisahkan diri dari Kerajaan Sunda, menjadi kerajaan yang mahardika.

Sang Maharaja Tarusbawa adalah raja yang cinta damai dan adil bijaksana. Ia berpikir, lebih baik membina separuh wilayah bekas Tarumanagara daripada menguasai keseluruhan, tetapi dalam keadaan lemah. Tahun 670 Masehi, merupakan tanda berakhirnya Tarumanagara. Kemudian muncul dua kerajaan penerusnya, Kerajaan Sunda di belahan barat dan Kerajaan Galuh di belahan timur, dengan batas wilayah kerajaan Sungai Citarum. Pada tahun 1482, kedua kerajaan ini dipersatukan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), menjadi Kerajaan Sunda Pajajaran.

Kisah lengkap Kerajaan Kendan bersumber pada naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 4 (naskah wangsakerta)

RINGKASAN KERAJAAN KENDAN

0448 – 0534 Caka = 86 tahun candra ; 556 –639 Masehi = 83 tahun surya

Kala

0448 – 0490 Caka (556 –597 Masehi)42 tahun

Kerajaan

Kendan 1, bawahan Tarumanagara

Nama

Resiguru Manikmaya

Gelar

Sang Maharsiguru Manikmaya, Sang Resiguru

Asal-usul

Negeri asalnya, ialah Bharatawarsa (India) sebagai tanah airnya, tempat ia dilahirkanIa berkelana yang ahirnya sampai ke Jayasinghapura, ibukota Tarumanagara (6).

Istri 1

Déwi Tirthakancana, puteri Sri Maharaja Suryawarman, raja Tarumanagara 7

Anak

Rajaputra Suraliman, panglima besar angkatan bersenjata Tarumanagara.

Istri 2

Déwi Sanwara

Anak

Sri Naragati atau Sri Narawati diperisteri oleh Sang Surawana atau Si Uwur­-uwur

Catatan

Sang Surawana adalah siswa Sang Resiguru Manikmaya. Kemudian diambil menjadi menantu Sang Resiguru. Disebabkan Sri Naragati menanggung derita dan sangat cinta kepada sang teruna SurawulanSri Naragati, Sri Narawati bersuami Surawana, Sang Sudhira, Si Uwur-uwur (pekerjaan Sang Surawana, yaitu tiap hari mencari ikan (di) batas hutan atau rawa. Setelah itu, dia menjadi nelayan di laut dan sungai bersama-sama ayahnya dan saudaranya. Sang Surawana yang semula disebut Si Uwur-uwur Sagara, karena ganti pekerjaan (menjadi) pencari burung, kemudian disebut Manuk Si Uwur-uwur )

Keterangan

Adapun Resiguru Manikmaya asal mulanya dari negeri Bharata. Sudah beberapa negeri dan wilayah didatangi olehnya, serta tinggal di sana, kemudian berangkat lagi pindah ke negeri lain. Negeri itu di antaranya Pulau Simhala, negeri Gauda, Hujungmendini, Pulau Sumatra, Pulau Bali, Jawa Timur. Akhirnya tiba di Jawa Barat dan tinggal di situ, di ibukota Kerajaan Taruma ialah Jayasinghapura.Sang Resiguru Manikimaya ahli agama, pandai bicara, serta sifatnya sangat (baik), beliau dijadikan kepala pendeta di ibukota Tarumanagara. Tidak lama antaranya, resiguru Manikmaya oleh Sri Maharaja Suryawarman diberi hadiah daerah, yaitu wilayah Kendan namanya, lengkap dengan pembantunya, wadwamawastra. Sang Resiguru dijadikan raja Kendan, sebagai raja wilayah Kerajaan Tarumanagara. Kepada menantunya Sri Maharaja juga memberikan berbagai perlengkapan raja yang baik. Begitu juga sejumlah pakaian, mahkota raja dan permaisuri, serta senjata pembesar, pegawai-pegawai raja, pejabat raja. Bahkan seluruh barang dan bermacam-macam makanan, bermacam-macam kendaraan yaitu kereta gajah, kuda, ternak sapi, kambing, anjing, juga burung, ayam, dan macam‑macam yang lainnya lagi. Seluruh raja wi­layah di Jawa Barat semuanya (diberi) tahu dengan Surat oleh Sri Maharaja Tarumanagara bahwa Raja resiguru Kendan adalah menantuku, lindungilah olehmu semua, janganlah ditolak menantuku olehmu; dan lagi Resiguru Manikmaya merupakan Brahmana (yang) sempurna mantranya dan beliau telah ternama dalam keagamaan. Siapa yang menolak, memukul kepada Raja resiguru Kendan dibunuh, dan kerajaannya dihancurkan. sedangkan keturunan, sanak saudara serta keluarga raja resiguru Kendan dijadikan pembesar kerajaan, dan jabatan pejabat kerajaan, hulubalang, mantri, dan lainnya lagi di Kerajaan Kendan; juga ada yang dijadikan duta di kerajaan sahabat, bahkan ada juga yang dijadikan duta Kerajaan Tarumanagara di Kerajaan Cina dan salah satu kerajaan di negeri Bharata.

Catatan

Raja resiguru Kendan Sang Manikmaya menjadi raja wilayah Kendan lamanya 42 tahun, ialah dari tahun 448 sampai dengan tahun 490 Saka.Permulaan berdiri(nya) kerajaan wilayah Kendan ditulis dalam prasasti. Begini: Tanggal empatbelas paro terang bulan Magha tahun esthi wisikya truthi 453 Caka.[14s, 04, 0453 Caka = 19 Agustus 0561]

Resiguru Manikmaya di Kendan adalah nenek moyang raja Galuh

Kala

0490 – 0519 Caka (597 – 625 Masehi) = 29 tahun12k-12-0490 Caka (18 Maret 0598 Masehi)

Kerajaan

Kendan 2, bawahan Tarumanagara

Nama

Suraliman, Sang Suraliman Sakti

Gelar

Karmadharaja Bhimaparakrama

Istri

Déwi Mutyasari, puteri Bakulapura, keturunan wangsa Kudungga

Anak

1 Sang Kandihawan, raja di Medangjati2 Dewi Kandyawati, dijadikan isteri oleh saudagar, orang Kotyewara dari Sumatera dan ia tinggal di tanah air suaminya

Ketika beliau berusia 20 tahun makin terlihat kegagahan badannya, dan pandai berperang. Oleh karena itu beliau dijadikan senapati pe­rang, kemudian menjadi panglima di Kerajaan Tarumanagara.

Resi Mandra dari Jawa Timur, yang berdiam di wilayah Kendan

Anak

1 Déwi Mayangsari atau Komalasari2 Prabhaya, ia menjadi Patih di Medang­jati di bawah kekuasaan Ratu Sang Kandihawan

Kala

0519 – 0534 Caka (625 –640 Masehi) = 15 tahun

Kerajaan

Me­dangjati atau Medanggana.

Nama

Sang Kandihawan

Gelar

Sang Bhatara Wishnu, Rahiyang Dewaraja, rajarsi di Medanjati

Istri

Déwi Mayangsari atau Komalasari

Anak

1 Sang Mangukuhan atau Rahiyang Kuli-kuli2 Sang Karungkalah atau Rahiyang Surawulan3 Sang Katungmaralah atau Rahiyang Pelesawi

4 Sang Sandanggerba atau Rahiyang Rawunglangit

5 Sang Wretikandayun atau Sang Suradharmma

Kala

80 tahun

Kerajaan

ratu wilayah

Nama

Sang Mangukuhan atau Rahiyang Kuli-kuli, lahir 0501 Caka (0608 Masehi)

Istri

Anak-

Wafat

meninggal pada usia 105 tahun, pada tahun 606 Caka (=710 Masehi)Selanjutnya digantikan oleh puteranya, sebagai raja wilayah.

Kala

6 tahun

Kerajaan

ratu wilayah

Nama

Sang Karungkalah, lahir 0504 Caka (0611 Masehi)

Gelar

Rahiyang Surawulan

Istri

Anak

banyaknya 3 orang. Yang bungsu masih bayi.

meninggal pada usia 30 tahun, ialah pada tahun 538 Caka (=644 Masehi)Selanjutnya ia digantikan oleh isterinya, karena putera‑puterinya masih kecil‑kecil

Kala

97 tahun

Kerajaan

ratu wilayah

Nama

Sang Katungmaralah, lahir 0507 Caka (0614 Masehi)

Gelar

Rahiyang Pelesawi

Istri

Anak

meninggal pada usia 122 tahun Caka; dia digantikan oleh cucunya.

Kala

60 tahun

Kerajaan

ratu wilayah

Nama

Sang Sandanggerba, lahir 0510 Caka (0616 Masehi)

Gelar

Rahiyang Rawunglangit

Istri

Anak

Wafat

meninggal pada usia 83 tahun; Ia digantikan oleh menantunya, karena puteranya yang tertua wanita.

Kala

534 – 624 Saka (612/13 – 702/03 Masehi), 90 tahun

Kerajaan

istananya pindah ke wilayah Galuh.

Nama

Sang Wretikandayun atau Sang Suradharmma, lahir 0513 Caka (0619 Masehi)

Istri

Anak

Setelah ayahnya meninggal, selanjutnya digantikan oleh Sang Wretikandayun

Mandala Kendan

“Ti Inya carek Bagawat Resi Makandria : ‘Ai(ng) dek leumpang ka Sang Resi Guru, ka Kendan.’

Datang Siya ka Kendan.

Carek Sang Resi Guru:’Na naha beja siya Bagawat Resi Makandria, mana siya datang ka dinih?’

‘Pun sampun, aya beja kami pun. Kami me(n)ta pirabieun pun, kena kami kapupudihan ku paksi Si Uwuruwur, paksi Si Naragati, papa baruk urang heunteu dianak.

Carek Sang Resi Guru: ‘Leumpang siya ti heula ka batur siya deui. Anakaing, Pwah Aksari Jabung, leumpang husir Bagawat Resi Makandria, pideungeuneun satapi satapa, anaking.’

(Carita Parahyangan, Drs.Aca dan Saleh Danasasmita, 1981)

Mandala mengandung pengertian “Kabuyutan” atau “Tanah suci”, segala hal, benda atau perbuatan yang dapat menodai kesuciannya harus dilarang atau dianggap “buyut”.

Mandala kendan sekarang terletak di kecamatan Nagreg, diatas ketinggian 1200dpl, dengan luas wilayah (± 4.930,29 Ha),yang terbagi atas : hutan rakyat (± 907,37 ha) dan tanaman tahunan/perkebunan (± 1.727,54 ha).

Status ke-mandala-an kendan sudah dipangku jauh sejak kerajaan karesian kendan didirikan, daerah ini sangat dilindungi sebagai tempatnya para resi luhung ilmu (diterangkan dalam naskah carita parahyangan).

Barulah kemudian tahun ±512 M, yaitu pada masa raja Tarumanagara ke-9 ; Suryawarman, mandala kendan diberikan kepada seorang Resi yang bernama Manik Maya seorang penganut hindu shiwa yang taat, atas penikahannya dengan seorang putri dari Maharaja yang bernama Tirta Kencana.

Daerah ini dianugerahkan sebagai sebuah hadiah pernikahan, diberikan lengkap dengan para prajuritnya. Sejak masa itu Mandala kendan menjadi sebuah kerajaan karesian dibawah perlindungan Maharaja Suryawarman, bukan sebagai sebuah kerajaan yang berada dibawah kekuasaan Tarumanagara tetapi satu mandala yang sangat dihormati bahkan dilindungi oleh raja-raja pada masa itu :

“ Hawya Ta Sira Tinenget: janganlah ia ditolak, karena dia itu menantu maharaja, mesti dijadikan sahabat, lebih-lebih karena sang resiguru Kendan itu, seorang Brahmana yang ulung dan telah banyak berjasa terhadap agama. Siapapun yang berani menolak Rajaresiguru Kendan, akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya akan dihapuskan”

( carita parahyangan;Danasasmita, 1983:41 )

Selanjutnya Kendan menjadi tempatnya para prajurit Tarumanegara untuk ditempa penyucian dan penggemblengan. Salah satu kitab yang terkenal yang disusun oleh Resiguru Manik Maya adalah Pustaka Ratuning Bala Sarewu, yaitu sebuah kitab yang berisi bagaimana caranya membangun sebuah negara dengan para prajuritnya yang sangat kuat. Dari mandala ini dilahirkan para Yudhapena atau panglima perang laut di Tarumanagara, salah satunya yaitu Raja Putra, Sang Baladhika Suraliman, putra pertama Resiguru Manik Maya. Kemudian kitab ini pula yang memandu Sanjaya keturunan ke-6 dari Kendan, dalam menyatukan kembali Sunda dan Galuh atas bimbingan Rabuyut Sawal ( Masa Sanjaya adalah masa puncak kejayaan bersatunya kembali raja-raja di Jawa ). Berikut keterangan dalam naskah carita parahyangan terkait raja-raja di Kendan :

“ Ndeh Nihen carita parahyangan. Sang Resiguru mangyuga Rajaputra. Miseuweukeun Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan maneh Rahyangta Dewaraja. Basa lumaku ngarajaresi ngangaranan maneh Rahyangta Ri Medangjati, inya sang Layuwatang. Nya nu nyieun Sanghyang Watang Ageung ”

“ ya, inilah kisah para leluhur. Sang Resiguru beranak Rajaputra. Rajaputra beranak Sang Kandiawan dan Sang Kandiawati, sepasang kakak beradik. Sang Kandiawan menamakan dirinya Rahyangta Dewaraja. Waktu ia menjadi Rajaresi menamakan dirinya Rahyangta di Medangjati. Yaitu Sang Layungwatang. Dialah yang membangun balairung besar”.

( Carita parahyangan, Atja,Danasasmita, 1983:37-38 )

Raja Kendan berstatus Rajaresi atau Raja sekaligus Resi. Raja pertamanya adalah Resiguru Manik Maya, atas pernikahanya dengan Tirta Kencana mempunyai anak bernama Suraliman, kemudian oleh kakeknya Maharaja Tarumanagara ia dianugerahi sebagai Yudhapena atau Panglima laut kerajaan Tarumanegara, ia kemudian menikah dengan Mutyasari seorang putri dari Kudungga, dari pernikahannya ia dianugerahi putra yang bernama Kandiawan yang kemudian di Rajaresikan di Kendan dan putri dengan nama Kandiawati. Kandiawan mempunyai beberapa orang anak yaitu Sang Mangukuhan, Sang Kangkalah, Sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba dan Sang Wretikendayun, yang kemudian di Rajaresikan di Kendan.

Pada masa Wretikendayun terjadi perubahan berarti dalam perkembangan sejarah Kendan, yang diakibatkan adanya pewarisan tahta Tarumanagara kepada bukan wangsa warman. Pada tahun 669 di Tarumanagara dirajakan seorang muda Tarusbawa, putra daerah dari sundapura, ibu kota Tarumanagara saat itu. Diangkatnya Tarusbawa menimbulkan pergolakan dari kerajaan-kerajaan bawahan Tarumanagara, Tarusbawa yang kemudian mendapat gelar Maharaja Tarusbawa Sunda Sembada Manumanggalajaya, karena keputusannya merubah nama Tarumanagara menjadi kerajaan Sunda, semakin menimbulkan pergolakan. Yang pada akhirnya akibat dari perubahan tersebut, Wretikendayun sebagai Rajaresi Kendan memutuskan untuk me-Mahardika-kan diri, dengan mendirikan Kerajaan Galuh di ibu kota barunya, sebelah timur Kendan, yaitu diantara sungai Cimuntur dan Citanduy. sebuah surat dikirimkan kepada Tarusbawa yang berisi peringatan dan keputusan pemisahan daerah “Karunya Ning Caritra”, yang isinya “Mulai hari ini Galuh berdiri sebagai sebuah kerajaan yang Mahardika, tidak berada dibawah kerajaan pakanira lagi, janganlah pasukan tuan menyerang Galuh, karena pasukan Galuh jauh lebih kuat dari pasukan Sunda, ditambah Galuh di dukung oleh kerajaan-kerajaan disebelah timur Citarum...hendaknya kita rukun hidup berdampingan”

Atas keputusan tersebut maka pada tahun 670 M, berdirilah dua buah kerajaan besar di Jawa, dengan Citarum sebagai pembatasnya. Dari Citarum ke arah barat menjadi kerajaan Sunda sedang dari Citarum ke arah timur menjadi kerajaan Galuh. Sementara Mandala Kendan, tetap menjadi sebuah daerah yang dilindungi oleh kedua kerajaan tersebut. Kemudian hari Sunda dan Galuh pada masa Sanjaya dapat dipersatukan kembali, setelah terjadi pemberontakan dan perang saudara antar keturunan Galuh.

Perebutan, perubahan kerajaan tindak lantas merubah keadaan, Kendan tetap sebagai sebuah Mandala yang sepakat dilindungi. Namun kemudia sejak Pajajaran runtuh tahun 1579, status ke-mandala-an, mengalami perubahan, bahkan beberapa tempat seperti hal nya di Kanekes, tidak lagi diakui oleh para penguasa selanjutnya. Sejak saat itu berbagai kepentingan “penguasa” tidak lagi sejalan dalam melindungi “kesucian” Mandala.

Dalam Kropak - kropak

“Nuras” sesungguhnya erat dan tumbuh sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sunda, yang hidup menggantungkan diri terhadap ladang dan sawah, karena dua hal tersebut merupakan satu penghormatan kepada Nyi Pohaci Sang Hyang Asri dan Batara Patanjala. Artinya bagi masyarakat ladang, padi dan hujan atau air merupakan dua sejoli yang tak terpisahkan. Untuk mereka dalam “Gaib” pelindung hujan atau air, sama pentingnya dengan “Gaib” pelindung padi. Kedua hal ini menjadi dua substansi penting dalam “Nuras”.

Dalam kropak 406 dan kropak 630, tercatat Patanjala adalah nama seorang Resi murid Siwa yang berjumlah 5 orang, namun tidak tercatat dalam Practical Sanskrit Dictionary Macdonell. Kata “Patanjala” berarti air jatuh atau air hujan (pata=jatuh:jala=air), sementara didalam sejarah Jawa Barat ada dua orang raja yang dianggap penjelmaan dari Patanjala, yaitu Wretikendayun raja ke-4 Kendan ( pendiri Galuh ) dan Darmasiksa atau Maharaja Tarusbawa Sunda Sembada Manumanggalajaya ( Pendiri Sunda ). Penulis kropak 632 bahkan menganggap Patanjala sebagai daya-hidup sehingga tokoh ini dalam kepercayaan orang sunda silam menggeser posisi Siwa dan Wisnu.

Dalam lakon Lutung Kasarung versi pantun Kanekes, tokoh Guru Minda di sebut Guru Minda Patanjala. Khusus di daerah Tangtu lakon itu tergolong sakral karena isinya berkaitan dengan perawatan tanaman padi dan pengurusannya setelah panen. Tersirat disini hubungan antara “Patanjala”, yang turun ke dunia untuk mengajarkan tata cara penanaman padi dan pemeliharaannya agar sesuai dengan kehendak Nyi Pohaci Sang Hyang Asri. Dalam pantun Bogor, Batara Kuwera yang dianggap sebagai Dewa Hujan atau Dewa air dan kemakmuran di kisahkan sebagai “suami” Nyi Pohaci Hyang Asri. Dalam hal ini pun kita melihat bagaimana “gaib”, pelindung padi dijodohkan dengan “gaib” pelindung hujan atau air, pelindung hujan atau air hanya berbeda nama.

Upacara “seren taun”, dalam versi pantun Bogor dinamakan “Guru Bumi” yang berlangsung selama 9 hari dan ditutup dengan upacara “Kuwera” bakti pada bulan purnama. Upacara ini meliputi “syukuran” atas keberhasilan panen yang dipandang sebagai anugerah dari Dewa Kuwera.

Begitu pula pada upacara “Nuras” sesungguhnya adalah satu bentuk upacara syukuran bagaimana seharusnya merawat Patanjala ( air ) sebutan lain bagi Wretikendayun dan Nyi Pohaci Sang Hyang Asri ( Padi ).

Daftar Pustaka

Adiwilaga, Prof, Ir. Anwas
1975 “Beberapa Catatan Tentang Penulisan Sejarah Jawa barat”, Sejarah Jawa Barat
Sekitar Permasalahannya. Bandung : Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan
Nasional Prov. Jawa Barat.

Atja dan Drs. Saleh Danasasmita, Drs.
1981 b Carita Parahyangan (Transkripsi, Terjemahan, dan Catatan). Bandung : Proyek
Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.

Wangsakerta, Pangeran.
1680 Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantra. Parwa II, Sarga 4. Naskah Milik Museum
Negeri Jawa barat.

Djatisunda Anis.
1981 Tata Kehidupan “Urang Kanekes”. Bandung : Naskah Laporan untuk BAPPEDA
Propinsi Daerah Tingkat I Jawa barat.

Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda
1986 “Kehidupan Masyarakat Kanekes”. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Bandung : Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan







Louis Vuitton, Selembar Kisah Pahit Perancang Berbakat dalam Kotak Koper Kulit Mewah di Kota Paris

March 20, 2017 Add Comment

Bayangkan anda berjalan di trotoar kota. Rasa percaya diri menyelinap dari diri anda karena pakaian yang wangi dan wajah yang segar. Sumber yang paling nyata rasa percaya diri itu hadir dari sebuah tas di tangan anda. Jalanan yang ramai seolah milik anda sendiri. Anda merasakan tatapan dari orang-orang di sekitar anda bukan kepada anda, melainkan pada tas anda yang berlogo LV.

Setiap zaman berubah ditandai dengan dinamika kebudayaan dan kelangsungan kehidupan sosial di berbagai belahan dunia. Begitu pula lahirnya ikon LV telah menjadi bagian dari kisah personal yang mampu mempengaruhi aktivitas kolektif di zamannya bahkan sampai kini.

LV atau Louis Vuitton adalah produk Louis Vuitton Malletier yang merupakan sebuah kelompok perusahaan internasional yang terletak di Paris, Perancis. Awal perusahaan ini dibuka pada tahun 1854 di Paris oleh seorang perancang tas bernama “Louis Vuitton”.

Perusahaan ini berkembang bukan sebagai produsen tas saja. Secara umum juga menghasilkan berbagai macam produk barang mewah, dalam bentuk tekstil.

Jalan Berliku Vuitton Menuju Paris

Louis Vuitton, lahir pada 4 Agustus 1821 di Anchay, Jura, wilayah Perancis Timur. Ia adalah anak pembuat topi. Legenda mengisahkan bahwa anak muda Vuitton meninggalkan rumah pada usia 13.

Vuitton berjalan kurang lebih sejauh 469 km. Perjalanan yang membuatnya lelah. Louis berangkat meninggalkan rumah sendirian dengan berjalan kaki, kota tujuannnya adalah Paris. Kurang lebih dua tahun, ia menjalani pekerjaan apa saja hanya untuk makan. Hidup di sepanjang jalan dan tinggal di mana pun hingga dia bisa menemukan tempat berlindung.

Berhenti di sepanjang jalan untuk bekerja dan mendapatkan makanan adalah untuk bertahan hidup. Kemiskinan merambah Paris pada saat itu. Membuat dirinya harus menjalani kehidupan yang jauh dari layak. Kemiskinan meluas di Paris yang disebabkan oleh revolusi industri. Perjalanan panjang Vuitton dari Anchay ke Paris baru tiba pada tahun 1837, pada usia 16.

Tiba di kota ia mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja harian di bengkel sukses Monsieur Marechal, pembuat kotak pakaian dan barang busana secara kustom.

Bepergian dengan kuda, kereta api dan kapal seperti yang dilakukan masyarakat pada masa itu, terkadang membuat barang dalam paket kotak sering diperlakukan secara kasar, dilemparkan bahkan disalahgunakan, sehingga dipakailah kotak yang kuat untuk melindungi barang-barang itu. Hal ini penting demi keamanan, termasuk mengunci kotak itu dan memastikan bahwa itu tidak mudah bagi pencuri untuk membobol kunci.

Selama bekerja Louis Vuitton menunjukkan bakat besar bagi profesi barunya. Dia hidup bersama perusahaan Monsieur Maréchal selama 17 tahun sebelum mendirikan toko sendiri di Paris.



Di Eropa abad ke-19, kotak pakaian dan kemasan adalah produk kerajinan yang sangat terhormat dan sopan. Di dalam kotak yang dibuat secara manual itu barang-brang berharga disimpan rapi. Hanya butuh beberapa tahun bagi Vuitton untuk membaca trend mode di Paris pada saat itu. Lalu menciptakan barang berkelas yang kelak menjadi barang siap pakai bernilai tinggi. Sebuah kotak dibungkus kulit, menjadi koper atau bagasi.

Pada tahun 1854, pada usia 33, Vuitton menikahi gadis usia 17 tahun, Clemence-Emilie Parriaux. Segera setelah menikah, ia meninggalkan toko milik Marechal, dan membuka sendiri bengkel bagasi dan kemasan kotak di Paris.

Setelah pembentukan kembali Kekaisaran Perancis di bawah Napoleon III,
Vuitton dipekerjakan sebagai pembuat kotak pribadi dan packer untuk Ratu Perancis,
Eugenie de Montijo. Dia menyebutnya "Beaux vêtements d'une manière exquise"
(kotak pakaian yang paling indah dengan cara yang indah).

De Montijo membuka jalan menuju klien elit dan royal lain yang memberinya
pekerjaan untuk sisa karirnya. Wanita dan tas rasanya sulit dipisahkan. Tak heran
jika seorang wanita bisa membeli lebih dari satu tas dalam satu bulan,
bahkan satu minggu.

Toko Vuitton terbilang sangat sukses, pesanan datang dari orang kaya dan terkenal dari Paris dan dari seluruh dunia. desainnya Vuitton memiliki ciri unik dan jauh berbeda dari para pesaingnya. Tahun 1858 Vuitton menggantikan kotak kayu tradisional yang berat saat itu dengan koper yang lebih dan praktis dengan rancangan kanvas kulit khusus. Vuitton adalah bapak inovasi koper modern.

Koper kanvas sukses secara komersial dalam bentuk penjualan langsung, produk ini lebih ringan dari kotak kayu, tahan air dan lebih mudah untuk menyimpan pakaian dan barang lainnya. Setahun kemudian Vuitton memperluas tokonya. Membuka workshop di Asnières, sebelah Timur Laut dari Paris untuk menghasilkan barang.

Dari 1870-1871 Louis Vuitton bersama masyarakat Perancis lainnya telah banyak menderita selama Perang Perancis-Prusia, juga pengepungan Paris dan perang sipil berdarah yang menghancurkan Kekaisaran Perancis.

Bagi Louis Vuitton, keadaan ini sama saja berupa kehancuran karya, kreativitas, toko, dan hilangnya perlindungan dari keluarganya di Perancis. Akan tetapi usahanya tidak berhenti hanya dengan adanya situasi seperti ini.

Dia mulai membuka toko baru, diperbaikinya ruang karyanya dan mulai merancang dan memproduksi lebih banyak lagi koper-koper, tas-tas kotaknya yang khas. Setahun kemudian, orang kaya dan terkenal datang berkelompok kembali dan selama dua puluh tahun ke depan.


Budaya Paris menjadi makin mewah dengan hadirnya karya-karya Louis Vuitton. Ia merancang dan memproduksi karya tas dalam bentuk koper kulit buatan sesuai pesanan dengan ciri khas yang paling indah, mewah dan inovatif. Berawal dari kotak kayu berat hingga tas kulit kecil kini selalu melengkapi toko-toko di Kota Paris.

Anak Louis Vuitton, Georges mengikuti jejaknya dalam bisnis ini. Pada tahun 1886 dipatenkan desain kunci baru, yang masih digunakan sampai sekarang.

Louis Vuitton meninggal pada usia 70 pada tahun 1892. Warisannya, Louis Vuitton Malletier terdiri dari 460 toko dari 50 negara, dan dalam bentuk korporasi Moet Hennessy - Louis Vuitton (LVMH) memiliki lebih dari 2.400 toko di seluruh dunia.

Kini karya Louis Vuitton tetap terjaga di kelasnya, tas, dan akseoris lainnya selalu saja menjadi pusat perhatian publik dalam dunia fashion juga seni. Menjadi karya penting dalam pergelaran-pergelaran dunia seperti pekan mode yang biasa diselenggarakan dua kali dalam setahun di Paris, New York, London, dan Milan.


Berkah kesuksesan Louis Vuitton juga menjadi dorongan untuk para pelaku seni, budaya, dan pegiat sosial. Maka “Louis Vuitton Foundation” yang bertempat di Paris, Perancis berdiri pada tahun 2006, sebagai ruang publik bagi pecinta seni, arsitektur, budaya, buku, jurnalistik, seni pertunjukan, dan museum.

Sumber terkait:
www.wikipedia.org
www.fondationlouisvuitton.fr
www.thegoodlifefrance.com